JEMBRANA, MediaBaliOnline.com – Perkembangan teknologi yang semakin pesat dinilai tidak boleh menggeser identitas budaya Bali. Sebaliknya, kemajuan harus dimanfaatkan untuk memperkuat desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta membuka peluang kerja bagi generasi muda.
Pandangan tersebut disampaikan praktisi teknologi informasi sekaligus Putra Mendoyo, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau yang akrab disapa Agung Gempa, saat berbincang mengenai masa depan Kecamatan Mendoyo.
Menurut Agung Gempa, Mendoyo merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Jembrana yang memiliki potensi alam, budaya, sumber daya manusia, serta ekonomi rakyat yang sangat besar. Namun hingga kini, masih banyak potensi yang belum dikembangkan secara terpadu sehingga manfaatnya belum dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.
“Mendoyo memiliki semua modal untuk berkembang. Kita memiliki pantai, kawasan pertanian, perkebunan, budaya yang masih kuat, tradisi yang hidup, serta masyarakat yang memiliki semangat gotong royong. Tantangan kita adalah bagaimana menyinergikan seluruh potensi tersebut menjadi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Mendoyo Digital Bukan Sekadar Internet
Dalam pandangannya, konsep Mendoyo Digital bukan sekadar menyediakan jaringan internet atau pelayanan berbasis teknologi.
Lebih dari itu, digitalisasi harus mampu menjadi solusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pemasaran hasil pertanian, memperkuat UMKM, mengembangkan koperasi modern, meningkatkan pelayanan publik, hingga menciptakan peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
“Digital hanyalah alat. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika petani dapat menjual hasil panennya lebih luas, UMKM mampu memasarkan produknya secara digital, dan anak-anak muda memiliki keterampilan baru, di situlah teknologi benar-benar memberi manfaat,” jelasnya.
Desa Budaya Modern
Di tengah arus globalisasi, Agung Gempa menilai pembangunan desa harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Bali.
Ia mengusulkan konsep Desa Budaya Modern, yakni pembangunan desa yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan adat, tradisi, serta kearifan lokal.
Menurutnya, budaya Bali bukan penghambat kemajuan, melainkan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkelanjutan.
“Kemajuan tidak harus menghilangkan identitas. Justru budaya Bali harus menjadi kekuatan utama dalam setiap pembangunan. Teknologi hadir untuk memperkuat budaya, bukan menggantikannya,” katanya.
Ia juga menilai penataan kawasan desa, pelestarian seni budaya, penguatan desa adat, hingga penataan setra sebagai ruang penghormatan kepada leluhur merupakan bagian penting dari pembangunan yang berkarakter Bali.
Peluang Kerja Generasi Muda Harus Menjadi Prioritas
Agung Gempa menyoroti masih terbatasnya peluang kerja bagi sebagian generasi muda di wilayah pedesaan.
Menurutnya, setiap banjar memiliki potensi menjadi pusat lahirnya ekonomi kreatif apabila didukung dengan pelatihan, akses internet, pendampingan usaha, serta peningkatan keterampilan digital.
Pelatihan kecerdasan buatan (AI), digital marketing, desain grafis, pengelolaan media sosial, pembuatan website, hingga produksi konten kreatif dinilai dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja.
“Kita tidak bisa hanya berharap ada perusahaan besar datang membuka ribuan lapangan kerja. Kita juga harus menciptakan ekosistem yang melahirkan wirausaha muda, pelaku ekonomi kreatif, dan inovator dari desa sendiri,” ungkapnya.
Menghidupkan Potensi Yeh Meseha
Salah satu potensi yang dinilai masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan adalah kawasan Air Terjun Yeh Meseha.
Menurut Agung Gempa, pengembangan kawasan tersebut sebaiknya tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ia membayangkan pengembangan kawasan wisata yang terintegrasi dengan potensi pantai, kuliner ikan bakar, tradisi Makepung, pertanian, UMKM, homestay, camping, trekking, hingga kegiatan budaya masyarakat.
“Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal. Potensi Yeh Meseha dapat dikembangkan secara terpadu sehingga mampu menggerakkan ekonomi kawasan, bukan hanya menjadi destinasi yang dikunjungi sesaat,” katanya.
Internet Banjar sebagai Fondasi Ekonomi Kreatif
Agung Gempa juga menggagas pentingnya pengembangan Internet Banjar sebagai infrastruktur sosial baru di era digital.
Menurutnya, bale banjar tidak hanya menjadi pusat kegiatan adat dan sosial, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat pembelajaran, pelatihan, inovasi, serta pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Ia membayangkan setiap banjar memiliki akses internet yang memadai sehingga dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, pengembangan UMKM, pelatihan keterampilan, hingga aktivitas produktif generasi muda.
“Kalau dahulu pembangunan desa identik dengan membangun jalan, sekarang kita juga harus membangun akses informasi dan pengetahuan. Internet bukan lagi kebutuhan mewah, tetapi sudah menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya.
Membangun melalui Sinergi
Menurut Agung Gempa, pembangunan Mendoyo tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Ia menilai diperlukan sinergi antara pemerintah desa, desa adat, Pemerintah Kabupaten Jembrana, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Pusat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat agar seluruh potensi desa dapat berkembang secara optimal.
Baginya, pembangunan yang berkelanjutan lahir dari kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
“Saya percaya masa depan Mendoyo dibangun melalui sinergi. Ketika seluruh elemen masyarakat berjalan bersama, saya optimistis Mendoyo mampu menjadi kawasan yang maju, masyarakatnya semakin sejahtera, generasi mudanya memiliki banyak peluang, sementara adat, budaya, dan jati diri Bali tetap menjadi fondasi utama pembangunan,” pungkasnya.
Bagi Agung Gempa, kemajuan daerah tidak semata diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kesejahteraan, menjaga warisan budaya, serta menyiapkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan masa depan.
Karena pada akhirnya, cita-cita terbesar yang ingin diwujudkan adalah setiap desa di Mendoyo semakin maju tanpa kehilangan jati diri budaya Bali.
