Digital, AI dan Entrepreneurship Harus Menjadi Bekal Baru SDM Bali Menghadapi Perubahan Dunia Kerja
DENPASAR — Generasi muda Bali harus dipersiapkan bukan hanya menjadi tenaga kerja yang siap memasuki perusahaan, tetapi juga menjadi generasi yang memiliki kemampuan menciptakan usaha, inovasi dan lapangan kerja baru.
Pesan tersebut disampaikan praktisi teknologi informasi sekaligus entrepreneur asal Mendoyo, Jembrana, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa, melihat perubahan dunia kerja yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI).
Menurut Agung Gempa, pola lama yang menempatkan ijazah sebagai modal utama untuk memasuki dunia kerja mulai bergeser.
Ijazah tetap penting sebagai bukti pendidikan formal, tetapi perusahaan kini semakin memperhatikan kemampuan nyata seorang calon tenaga kerja.
“Era sekarang berbeda. Ketika orang datang melamar, perusahaan semakin ingin melihat dulu: Anda punya skill apa? Bisa memberikan nilai tambah apa? Punya pengalaman atau portofolio apa? Ijazah tetap penting, tetapi skill nyata menjadi pembeda,” ujar Agung Gempa.
Perubahan tersebut harus dibaca sebagai peluang, bukan ancaman.
Anak muda hari ini memiliki akses pembelajaran yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Melalui internet, smartphone, platform pendidikan dan AI, berbagai keterampilan bisa dipelajari dari mana saja.
Namun akses yang besar tersebut tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diikuti kemauan belajar dan praktik.
ERA INTEGRATED SKILLS
Agung Gempa menyebut dunia kerja masa depan membutuhkan integrated skills.
Artinya, seseorang tidak cukup hanya menguasai satu kompetensi teknis.
Seorang lulusan harus memiliki core skill sesuai bidangnya, kemudian memperkuatnya dengan kemampuan digital, komunikasi, kreativitas, penggunaan AI, pengolahan informasi, problem solving hingga entrepreneurship.
“Kalau hanya mengandalkan satu kemampuan, persaingannya semakin berat. Tetapi kalau core skill kita kuat lalu terintegrasi dengan digital, AI, kreativitas dan komunikasi, nilai kita menjadi berbeda,” katanya.
Ia mencontohkan kemunculan pekerjaan seperti big data analyst, product developer, digital creator dan berbagai pekerjaan baru berbasis teknologi.
Profesi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan industri dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan perubahan nomenklatur program studi.
“Dunia industri tidak berhenti hanya karena sebuah kampus belum memiliki nama program studi yang persis sama dengan kebutuhan perusahaan. Industri terus bergerak. Karena itu SDM juga harus terus belajar,” tegasnya.
PENGALAMAN TIGA DEKADE MENGIKUTI PERUBAHAN TEKNOLOGI
Agung Gempa sendiri telah mengikuti perjalanan dunia teknologi lebih dari tiga dekade.
Memulai kiprah sejak era awal komputerisasi dan internet di Bali, perjalanannya berkembang ke pengembangan website pemerintahan dan layanan publik, sistem informasi, media digital, digital marketing, pelatihan SDM, penguatan UMKM, koperasi, ekonomi kreatif hingga pemanfaatan Artificial Intelligence.
Ia pernah terlibat dalam sejumlah inisiatif digitalisasi pelayanan publik serta pembangunan ekosistem digital di Bali.
Saat ini Agung Gempa mengelola PT Sinar Emas Garuda Sukses (PT SIMAS) beserta jaringan media dan digitalnya, memimpin LPK Garuda College Indonesia, serta menjabat Ketua Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Dekopinwil Bali periode 2025–2030.
Ia juga aktif dalam pengembangan Koperasi Multi Pihak Bali Bangkit Sejahtera (KMP BBS), termasuk transformasi digital dan pengembangan berbagai unit produktif seperti food supply, pendidikan, media dan creative, pariwisata serta penguatan UMKM.
Bagi Agung Gempa, pengalaman panjang tersebut memperlihatkan satu pola yang selalu sama: teknologi berubah, tetapi manusia yang mau belajar akan selalu menemukan peluang.
BEKERJA BOLEH, TAPI BELAJAR MENJADI MANDIRI
Karena itu, ia tidak melihat bekerja di perusahaan dan membangun usaha sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan.
Generasi muda justru dapat menjadikan pengalaman bekerja sebagai bagian dari perjalanan menuju kemandirian.
“Bekerjalah dengan serius. Belajar bagaimana perusahaan berjalan, bagaimana melayani konsumen, bagaimana mengelola waktu, administrasi, keuangan, teknologi dan tim. Setelah itu tumbuhkan keberanian untuk melihat peluang usaha. Jangan selamanya hanya bertanya siapa yang membuka lowongan. Suatu saat kita juga harus berani bertanya: usaha apa yang bisa saya bangun dan berapa orang yang bisa saya ajak bekerja?” katanya.
Mindset tersebut, menurutnya, perlu mulai dibangun sejak SMA/SMK dan perguruan tinggi.
Sekolah dan kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi perlu membentuk manusia yang mampu bekerja, beradaptasi, berkarya dan mandiri.
PORTOFOLIO ADALAH BUKTI
Agung Gempa juga mendorong anak muda mengumpulkan bukti kompetensi selama proses pendidikan.
Tidak harus selalu berupa proyek besar.
Pengalaman magang, website yang pernah dibuat, desain, video, aplikasi sederhana, kegiatan organisasi, proyek sosial, usaha kecil, sertifikat kompetensi, tulisan maupun berbagai karya dapat menjadi portofolio.
“Kalau mengaku bisa desain, tunjukkan desainnya. Kalau bisa digital marketing, tunjukkan apa yang pernah dikerjakan. Kalau memahami AI, tunjukkan bagaimana AI dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan. Dunia sekarang semakin membutuhkan bukti,” ujarnya.
Itulah sebabnya ia mendorong mahasiswa merancang CV jauh sebelum wisuda.
“Jangan empat tahun kuliah, lalu ketika wisuda baru membuka laptop dan bertanya CV mau diisi apa. Justru sejak hari pertama kita harus mulai merancang isi CV masa depan,” katanya.
Agung Gempa berharap pembangunan SDM unggul tidak berhenti menjadi slogan.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, koperasi, komunitas dan masyarakat harus membangun ekosistem yang memberikan ruang belajar, praktik, magang, sertifikasi, berkarya dan berwirausaha bagi generasi muda.
“Target akhirnya bukan hanya menghasilkan orang yang siap mencari pekerjaan. Kita ingin melahirkan generasi yang mampu menciptakan nilai tambah, membangun usaha dan membuka lapangan pekerjaan. Kalau semakin banyak anak muda Bali memiliki keberanian itu, ekonomi daerah juga akan semakin kuat,” tutupnya.
Semangat membangun ekosistem tersebut antara lain dikembangkan melalui LPK Garuda College Indonesia di garudacollegeindonesia.online, Koperasi Multi Pihak Bali Bangkit Sejahtera di kmpbalibangkit.com beserta unit Food Supply/FoodFresh, platform Love Bali dan Pusat Informasi Bali di lovebali.id, serta Media Bali Online Group melalui mediabalionline.com, nangunsatkerthilokabali.com dan agunggempa.mediabalionline.com. Ekosistem ini diperkuat berbagai jaringan media sosial dan digital lainnya yang bergerak dalam pendidikan, media, pariwisata, koperasi, UMKM, ekonomi kreatif dan transformasi digital Bali.
(LIPSUS)

