DENPASAR (2/3/2026) – Tokoh yang konsisten menyuarakan infrastruktur Jalan Tol Bali Barat sejak 2013, Agung Gempa, memberikan pernyataan strategis terkait kelanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Bali. Ditemui di kawasan Renon, ia membawa pesan khusus yang disebutnya sebagai ‘Salam Digital’ untuk Sekretaris Kabinet Indonesia ke-18, Teddy Indra Wijaya (Mas Teddy), agar meneruskan aspirasi warga Bali ke meja kerja Bapak Presiden di Istana.
Update Trase Berdasarkan Surat Resmi Kementerian PU
Agung Gempa merujuk pada surat Direktur Jalan Bebas Hambatan Nomor P50102/B/BF/2026/24 tertanggal Februari 2026. Surat tersebut mengonfirmasi bahwa pembangunan jalan tol tetap berlanjut sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), namun terdapat penyesuaian rute prioritas.
“Berdasarkan surat tersebut, pembangunan dipastikan berlanjut untuk ruas Perkutatan – Soka dan Soka – Mengwi. Namun, untuk Seksi I (Gilimanuk – Perkutatan) saat ini tidak berlanjut karena adanya pemutakhiran kajian kelayakan finansial dan reviu desain rute yang lebih efisien di titik kepadatan penduduk tinggi. Dalam dokumen tersebut juga dinyatakan bahwa penetapan lokasi (Penlok) lama untuk ruas Gilimanuk – Mengwi berakhir pada 25 Februari 2026,” jelas I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana (Agung Gempa), yang juga ketua umum Puri Andul, puri tertua di kabupaten Jembrana.
Pesan harmoni untuk Yth. Mas Teddy Sesneg: Harapan Kelanjutan Pembangunan
Melalui rilis ini, Agung Gempa menitipkan harapan besar kepada Mas Teddy agar mengawal komitmen Pemerintah Pusat bagi masyarakat Bali dan pengguna jalan antar pulau ini.
“Kami sangat mengapresiasi Langkah strategis Pemerintah Pusat sejauh ini. Pesan kami ke Mas Teddy untuk disampaikan ke Istana disela rapat-rapat nasional adalah: setelah tol Perkutatan-Soka-Mengwi selesai, pembangunan dilanjutkan sampai ke Gilimanuk. Kami meyakini ini adalah langkah kunci untuk menghapus ketimpangan ekonomi yang puluhan tahun dirasakan masyarakat di Bali Barat,” ungkapnya.
Menutup Cerita 1.000 Nyawa di Jalur Tengkorak
Agung Gempa menekankan bahwa tersambungnya tol hingga ke Gilimanuk adalah solusi kemanusiaan untuk mengakhiri tragedi di jalur nasional. Berikut adalah catatan kritis yang disampaikannya:
Tutup Cerita 1.000 Nyawa: Dalam satu dekade terakhir (2016–2025), jalur Denpasar-Gilimanuk telah menelan hampir 1.000 nyawa, sebuah fakta yang memilukan bagi kemanusiaan bangsa.
Efisiensi Ekonomi: Kegagalan infrastruktur memicu kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah akibat pemborosan BBM, kerusakan armada, serta busuknya komoditas logistik di tengah kemacetan, jebolnya jembatan penghubung dan kerumitan di jalur ini.
Normalisasi “Menginap di Jalan”: Sangat memprihatinkan ketika warga, termasuk keluarga dan anak-anak, terjebak belasan jam bahkan menginap di tengah jalan raya akibat truk mogok atau tabrakan yang memicu macet puluhan kilometer. Pengguna jalan seringkali kehilangan waktu produktif tanpa akses sanitasi yang layak di jalur nadi ekonomi ini.
“Harapan kami jelas, dengan tersambungnya tol dari Mengwi hingga Gilimanuk, ekonomi daerah akan bergerak seimbang dan bertumbuh merata. Inilah saatnya kita menutup cerita kelam ‘Jalur Tengkorak’ menuju masyarakat Bali dan Indonesia yang sejahtera,” tutup Agung Gempa. (MBO)
LINK FOTO FOTO VIRAL KEJADIAN MENYEDIHKAN JALUR NASIONAL GILIMANUK – DENPASAR https://www.facebook.com/share/p/1CV6hNLGej/
SALAH SATU VIDEO KEMACETAN PARAH, 12 JAM DI JALAN
https://www.facebook.com/share/r/17E3Ci2zVr/
https://www.facebook.com/share/v/1P1NekZfZD/
